Home » Religi » HALAL BIHALAL

HALAL BIHALAL

Aug
26
2012
by : admin . Posted in : Religi
a. Taubat (Tobat)

Terdahulu  telah  dikemukakan  bahwa  Al-Quran  mengisyaratkan
adanya dua pelaku tobat, yakni  Allah  dan  manusia.  Di  sini
dapat  ditambahkan  bahwa  ada  dua  macam  tobat (kembalinya)
Allah. Pertama, lahir sebelum lahirnya  tobat  manusia  secara
aktual.   Ketika  itu  ia  baru  dalam  bentuk  keinginan  dan
kesadaran tentang dosa-dosanya. Tobat pertama Tuhan ini antara
lain tercermin dari firman-Nya dalam Al-Quran surat Al-Baqarah
ayat 186,

     Apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku,
     maka sesungguhnya Aku dekat...

Kata 'ibadi (hamba-hamba-Ku) baik yang ditulis dengan  memakai
huruf  Ya'  (sebanyak 17 kali) maupun tidak (4 kali), semuanya
digunakan untuk menunjukkan hamba Allah yang  taat  atau  yang
bergelimang   di   dalam   dosa  tetapi  berkeinginan  kembali
kepada-Nya.

Perhatikan firman-Nya:

     Masuklah ke dalam kelompok hamba-hamba-Ku dan masuklah
     ke dalam surga-Ku (QS Al-Fajr [89]: 29-30).

Dan firman-Nya:

     Wahai hamba-hamba-Ku yang bergelimang dalam dosa (dan
     telah menyadari dosanya sehingga ingin kembali),
     janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah (QS
     Al-Zumar [39]: 53)

Surat Al-Baqarah ayat 186  di  atas  menjelaskan  bahwa  Allah
dekat    dengan   hamba-hamba-Nya,   walaupun   mereka   masih
bergelimang dalam  dosa  dan  maksiat  tetapi  telah  memiliki
kesadaran untuk bertobat.

Tobat  Allah  (kembalinya  Allah)  terhadap  yang berkeinginan
dekat kepada-Nya, lebih jelas terlihat pada ayat berikut:

     Maka Adam menerima dan Tuhan-Nya (petunjuk) berupa
     kalimat-kalimat, dan Dia bertobat (mengampuninya) (QS
     Al-Baqarah [2]: 37).

Pemberian kalimat-kalimat  itu  memberi  isyarat  bahwa  Allah
membuka pintu tobat-Nya, dan memberi taufik kepada mereka yang
berdosa, yang  terketuk  hatinya  untuk  kembali.  "Penerimaan
kalimat-kalimat  dari  Tuhan"  itulah  yang  mengantarkan Adam
mengajukan permohonan ampun kepada Allah.

Langkah pertama dari tobat Allah  ini,  antara  lain  dipahami
pula  dari  redaksi-redaksi  fashilat (penutup) ayat-ayat yang
berbicara tentang tobat-Nya.

Perhatikanlah kedua ayat berikut ini:

     Allah hendak menerangkan kepada kamu dan mengantarmu ke
     jalan orang-orang sebelum kamu (para Nabi dan
     orang-orang saleh) dan hendak menerima tobatmu. Allah
     Maha Mengetahui lagi Bijaksana (QS Al-Nisa' [4]: 261.

     Maka barangsiapa bertobat (di antara pencuri-pencuri
     itu) sesudah melakukan kejahatannya, dan memperbaiki
     diri, sesungguhnya Allah bertobat kepadanya (menerima
     tobatnya). Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha
     Penyayang (QS Al-Ma-idah [5]: 39).

Penutup surat An-Nisa ayat 26 mengisyaratkan  langkah  pertama
tobat  Allah,  yang dilakukan-Nya kepada mereka yang diketahui
terketuk hatinya atau  memiliki  kesadaran  terhadap  dosanya.
Langkah   tersebut   dilakukan  oleh  Allah  karena  Dia  Maha
Mengetahui  segala  sesuatu,  termasuk  bisikan-bisikan   hati
manusia,  dan  karena  Dia Maha Bijaksana. Dalam posisi inilah
Allah memberi petunjuk kepada Adam dengan kalimat-kalimat yang
wajar diucapkan untuk memohon ampun, karena betapapun, manusia
selalu membutuhkan petunjuk-Nya, lebih-lebih pada saat ia jauh
dari Allah Swt.

Penutup  surat  Al-Ma-idah juga berbicara tentang tobat A1lah,
tetapi kali ini dia benar-benar  telah  "tobat"  (kembali)  ke
posisi semula. Namun harus disadari bahwa hal ini baru terjadi
jika sang hamba yang berdosa bertobat  dan  memperbaiki  diri.
Allah   mendekatkan   diri   dan  kembali  ke  posisi  semula,
disebabkan Dia Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

b. Al-'Afw (Maaf)

Kata al-'afw terulang dalam Al-Quran sebanyak  34  kali.  Kata
ini pada mulanya berarti berlebihan, seperti firman-Nya:

Mereka  bertanya  kepadamu  tentang  hal yang mereka nafkahkan
(kepada orang).  Katakanlah,  "al-'afw"  (yang  berlebih  dari
keperluan) (QS Al-Baqarah [2]: 219).

Yang  berlebih  seharusnya  diberikan  agar  keluar.  Keduanya
menjadikan sesuatu yang tadinya  berada  di  dalam  (dimiliki)
menjadi  tidak di dalam dan tidak dimiliki lagi. Akhirnya kata
al-'afw berkembang maknanya menjadi  keterhapusan.  Memaafkan,
berarti menghapus luka atau bekas-bekas luka yang ada di dalam
hati.

Membandingkan ayat-ayat yang berbicara tentang tobat dan maaf,
ditemukan  bahwa kebanyakan ayat tersebut didahului oleh usaha
manusia  untuk   bertobat.   Sebaliknya,   tujuh   ayat   yang
menggunakan kata 'afa, dan berbicara tentang pemaafan semuanya
dikemukakan tanpa adanya usaha terlebih dahulu dari orang yang
bersalah. Perhatikan ayat-ayat berikut:

     Allah mengetahui bahwa kamu tadinya mengkhianati dirimu
     sendiri (tidak dapat menahan nafsumu sehingga
     bersetubuh di malam hari bulan Ramadhan dengan dugaan
     bahwa itu haram) maka Allah memaafkan kamu (QS
     Al-Baqarah [2]: 187).

     Allah memaafkan kamu, mengapa engkau memberi izin
     kepada mereka, sebelum engkau mengetahui orang-orang
     yang benar (dalam alasannya) dan sebelum engkau
     mengetahui pula para pembohong? (QS Al-Tawbah [9]: 43).

     Balasan terhadap kejahatan adalah pembalasan yang
     setimpal, tetapi barangsiapa yang memaafkan dan berbuat
     baik, ganjarannya ditanggung oleh Allah (QS Al-Syura
     [42]: 40).

Perhatikan juga firman-Nya dalam surat Ali-'Imran ayat 152 dan
155,  juga Al-Maidah ayat 95 dan lOl. Ternyata tidak ditemukan
satu ayat pun yang menganjurkan agar meminta maaf, tetapi yang
ada adalah perintah untuk memberi maaf.

     Hendaklah mereka memberi maaf dan melapangkan dada
     Tidakkah kamu ingin diampuni oleh Allah? (QS Al-Nur
     [24): 22).

Kesan yang disampaikan oleh ayat-ayat ini adalah anjuran untuk
tidak  menanti  permohonan  maaf  dari  orang  yang  bersalah,
melainkan hendaknya memberi maaf sebelum diminta. Mereka  yang
enggan   memberi   maaf   pada  hakikatnya  enggan  memperoleh
pengampunan dan Allah Swt. Tidak  ada  alasan  untuk  berkata,
"Tiada  maaf  bagimu",  karena  segalanya  telah  dijamin  dan
ditanggung oleh Allah Swt.

Perlu dicatat pula, bahwa pemaafan yang dimaksud  bukan  hanya
menyangkut  dosa  atau kesalahan kecil, tetapi juga untuk dosa
dan kesalahan-kesalahan besar.

Al-Quran  surat  Al-Baqarah  ayat  51-52,  berbicara   tentang
pemaafan  Allah  bagi  umat Nabi Musa a.s. yang mempertuhankan
lembu:

     Dan (ingatlah) ketika Kami berjanji kepada Musa
     (memberikan Taurat) sesudah empat puluh hari, lalu kamu
     menjadikan anak lembu (yang dibuat dari emas) untuk
     disembah sepeninggalnya, dan kamu adalah orang-orang
     yang zalim. Kemudian sesudah itu Kami maafkan
     kesalahanmu, agar kamu bersyukur (QS Al-Baqarah [2]:
     51-52).

c. Al-Shafh (Lapang Dada)

Kata al-shafh dalam berbagai bentuk terulang sebanyak  delapan
kali  dalam  Al-Quran.  Kata  ini pada mulanya berarti lapang.
Halaman pada sebuah buku dinamai shafhat karena kelapangan dan
keluasannya.

Dari  sini, al-shafh dapat diartikan kelapangan dada. Berjabat
tangan  dinamai   mushafahat   karena   melakukannya   menjadi
perlambang kelapangan dada.

Dari  delapan  kali bentuk al-shafh yang dikemukakan, empat di
antaranya didahului oleh perintah memberi maaf.

Perhatikan ayat-ayat berikut:

     Apabila kamu memaafkan, dan melapangkan dada serta
     melindungi, sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha
     penyayang (QS Al-Thaghabun [64]: 14).

     Hendaklah mereka memaafkan dan melapangkan dada! Apakah
     kamu tidak ingin diampuni oleh Allah? (QS Al-Nur [24]:
     22) .

     Maafkanlah mereka dan lapangkan dada. Sesungguhnya
     Allah senang kepada orang-orang yang berbuat kebajikan
     (terhadap yang melakukan kesalahan kepadanya) (QS
     Al-Ma-idah [5]: l3. Juga baca surat Al-Baqarah [2]:
     lO9).

Ulama-ulama Al-Quran seperti Ar-Raghib Al-Isfahani  menyatakan
bahwa  al-shafa lebih tinggi kedudukannya dari al-'afw (maaf).
Pernyataan yang dikemukakan itu dapat dipahami melalui  alasan
kebahasaan sebagai berikut.

Seperti  dikemukakan  terdahulu  dari  kata  al-shafh lahirlah
shafhat yang berarti  halaman.  Jika  Anda  memiliki  selembar
kertas  yang  ditulisi  suatu  kesalahan, lantas kesalahan itu
ditulis dengan pensil, Anda tentu  dapat  mengambil  penghapus
karet  untuk  menghapusnya.  Seperti  demikianlah  ketika Anda
melakukan  'afw  (memberi  maaf).  Seandainya  kesalahan  pada
kertas  itu ditulis dengan tinta, tentu Anda akan menghapusnya
dengan Tipp Ex agar tidak terlihat  lagi,  dan  di  sini  Anda
melakukan   takfir  seperti  yang  akan  dijelaskan  kemudian.
Betapapun Anda menghapus bekas kesalahan, namun pasti  sedikit
banyak,  lembaran  tersebut  tidak lagi sama sepenuhnya dengan
lembaran baru. Malah barangkali kertas itu menjadi kusut. Nah,
di  sinilah  letak  perbedaan  antara al-shafh yang mengandung
arti lapang dan lembaran baru dengan takfir. Al-Shafh menuntut
seseorang  untuk  membuka  lembaran  baru  hingga  sedikit pun
hubungan  tidak  ternodai,  tidak  kusut,  dan  tidak  seperti
halaman yang telah dihapus kesalahannya.

Mushafahat  (jabat  tangan) adalah lambang kesediaan seseorang
untuk  membuka  lembaran  baru,  dan  tidak   mengingat   atau
menggunakan  lagi  lembaran  lama.  Sebab,  walaupun kesalahan
telah dihapus, kadang-kadang masih saja ada kekusutan masalah.

Tadi telah dikemukakan bahwa memberi maaf  dilanjutkan  dengan
perintah al-shafh. Perintah memaafkan tetap diperlukan, karena
tidak mungkin membuka lembaran baru dengan  membiarkan  lembar
yang  telah  ada  kesalahannya  tanpa  terhapus.  Itu sebabnya
ayat-ayat yang memerintahkan al-shafh tetapi  tidak  didahului
oleh  perintah  memberi  maaf,  dirangkaikan dengan jamil yang
berarti indah. Selain itu, al-shafh juga  dirangkaikan  dengan
perintah menyatakan kedamaian dan keselamatan bagi semua pihak
(perhatikan firman-Nya dalam Al-Quran surat Al-Hijr [15]:  85,
serta Al-Zukhruf [43]: 89):

     Berlapang dadalah terhadap mereka dengan cara yang baik
     (Al-Hijri [5]: 85).

     Berlapang dadalah terhadap mereka dengan mengatakan
     salam/kedamaian (QS Al-Zukhruf [43]: 84).

d. Al-Ghufran

Al-ghufran terambil dari kata kerja ghafara yang pada  mulanya
berarti  menutup.  Rambut  putih  yang disemir hingga tertutup
putihnya disebutkan dengan ghafara asy-sya'ra. Dari akar  kata
yang  sama,  lahir  kata  ghifarah, yang berarti sepotong kain
yang menghalangi kerudung sehingga tidak ternodai oleh  minyak
rambut.  Maghfirah  Ilahi  adalah "perlindungan-Nya dari siksa
neraka."

Dalam Al-Quran surat Ali Imran (3): 31 dinyatakannya bahwa,

     Katakanlah, "Jika kamu benar-benar mencintai Allah,
     ikutilah aku, niscaya Allah mencintai dan menutupi
     dosa-dosamu. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi
     Maha Penyayang."

Kemudian dalam Al-Quran surat Al-Anfal (8): 29, dinyatakan,

     Wahai orang-orang yang beriman, apabila kamu bertakwa
     kepada Allah, niscaya Dia akan memberikan kepadamu
     furqan (petunjuk membedakan yang hak dan yang batil),
     dan menghapuskan kesalahan-kesalahan kamu, serta
     yaghfir lakum (melindungi kamu dari siksa). Dan Allah
     mempunyai karunia yang besar.

Dari kedua ayat di atas  terlihat,  bahwa  kata  yaghfir  bila
dirangkaikan  dengan  menyebutkan  dosa,  berarti menutup dosa
dengan  sesuatu.  Sedangkan  bila  tidak  dirangkaikan  dengan
menyebutkan   dosa   --sebagaimana   ditunjukkan  dalam  surat
Al-Anfal ayat 29-- berarti melindungi manusia dari siksa  atau
bencana.  Baik  dalam  konteks  pertama  maupun konteks kedua,
ayat-ayat tersebut memperlihatkan bahwa  ghufran  (pengampunan
atau  perlindungan)  tidak  dapat  diperoleh  kecuali  setelah
memenuhi syarat-syarat tertentu.

Dari kedua ayat tersebut juga terbaca bahwa  syarat  penutupan
dosa  dan perlindungan dari siksa adalah berbuat kebajikan. Di
sini terlihat  salah  satu  perbedaan  antara  al-'afw  (maaf)
dengan  ghufran. Karena itu, ditemukan ayat yang menggabungkan
keduanya, yakni:

     Hapuskanlah dosa kami, lindungilah kami, dan rahmatilah
     kami (QS Al-Baqarah [2]: 286).

TAKFIR

Untuk menutup dosa dengan pekerjaan  tertentu,  Al-Quran  juga
menggunakan  istilah  takfir.  Kata  ini,  terambil  dari kata
kaffara yang berarti menutup.

Al-Quran mempergunakan kata kaffara dengan berbagai  bentuknya
sebanyak  14  kali  (kecuali kaffarat), pelakunya ada1ah A11ah
Swt.

Yang  empat  kali  itu  selalu  digandengkan   dengan   syarat
melakukan  amal-amal  saleh, atau upaya meninggalkan dosa-dosa
besar.

Perhatikan misalnya firman Allah:

     Apabila kamu menghindari dosa-dosa besar yang dilarang
     untuk melakukannya, akan Kami tutupi
     kesalahan-kesalahanmu (QS Al-Nisa' [4]: 3l).

     Orang-orang yang beriman dengan beramal saleh pasti
     Kami tutupi kesalahan-kesalahan mereka ... (QS
     Al-'Ankabut [29]: 7)

     Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan beramal
     saleh, ditutupi kesalahan-kesalahannya (QS Al-Taghabun
     [64]: 9).

Dari keempat belas kali yang disebut itu, teramati  pula  tiga
belas  di  antaranya  dirangkaikan dengan kata as-sayyiat yang
diterjemahkan  sebagai  kesalahan-kesalahan   atau   dosa-dosa
kecil.  Hanya  satu  ayat  yang  tidak  menyebutkan  kata  as-
sayyiat, melainkan menggunakan istilah  aswa'  alladzi  'amilu
(perbuatan terjelek yang mereka lakukan), yang pada hakikatnya
dapat juga diartikan sebagai dosa-dosa kecil.

Nah, dari sini dapat dipahami bahwa dosa-dosa kecil  seseorang
dapat  ditoleransi  oleh  Allah  Swt.  akibat adanya amal-amal
saleh yang menutupinya .

Dalam konteks ini Nabi Saw. berpesan,

     Bertakwalah kepada Allah di mana pun kamu berada, dan
     susulkanlah kesalahan dengan kebaikan, niscaya kebaikan
     itu menghapusnya dan pergaulilah manusia dengan akhlak
     yang baik. (HR At-Tirmidzi melalui sahabat Nabi Abu
     Dzar).

Demikian sedikit dan banyak kesan yang  dapat  diperoleh  dari
ayat-ayat   Al-Quran   berkaitan   dengan   halal-bihalal/maaf
memaafkan. []
 Sumber : WAWASAN AL-QURAN

Mau berlangganan artikel ? masukan nama dan email anda


SEO Powered by Platinum SEO from Techblissonline