Home » Religi » SIAPA INGIN MENDAPAT AMPUNAN DAN SURGA TUHAN?

SIAPA INGIN MENDAPAT AMPUNAN DAN SURGA TUHAN?

Aug
26
2012
by : admin . Posted in : Religi

Biasanya setiap lebaran selalu saja dibarengi dengan kegiatan halal bi halal, baik dikampung maupun  di berbabagi instansi dan perusahaan.  Tradisi halal bihalal tersebut memang sudah menjadi budaya yang  semacam “wajib” diselenggarakan.  Bukan saja dalam upaya untuk melestarikan silaturrahmi antara warga atau teman dan relasi, melainkan sudah menjadi lagu wajib dalam upaya saling memberikan maaf atas kesalahan yang selama satu tahun berjalan sangat mungki dilakukan oleh siapa saja, termasuk yang tidak disengaja.  Momentum halal bihalal semacam menjadi wahana kesadaran bersama bahwa sesungguhnya sebagai manusia biasa dapat dipastikan  melakukan kesalahan dan kekhilafan, dan karena itu harus saling meminta dan memberikan maaf tersebut.

          Sebagaimana diketahui bersama bahwa dalam setiap penyelenggraan halal bihalal selalu akan dibacakan ayat-ayat al-Quran, terutama  ayat yang menjelaskan dan ada kaitannya dengan ampunan Tuhan dan menahan amarah, meskipun sesungguhnya seluruh ayat  al-Quran atau setidknya banyak ayat a-Quran yang juga relevan untuk dijadikan topik dalam halal bihalal.  Namun sekali lagi mayoritas masyarakat memang sudah kadung terbiasa dengan ayat 133-136 surat Ali Imran sebagai ayat halal bihalal.

          Maksud dari ayat-ayat tersebut secara umum ialah sebagai berikut:

” Dan bersegeralah kalian kepada ampunan dari Tuhan kalian dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan bagi orang-orang yang bertaqwa. Yaitu orang-orang mendermakan atau menginfakkan harta mereka baik pada saat lapang maupun sempit, dan juga orang-orang yang dapat menahan amarahnya dan yang mau memberikan ampunan dan maaf kepada manusia, dan Sesungguhnya Allah itu menyulkai orang-orang yang berbuat kebajikan.  Dan orang-orang yang ketika mereka melakukan  perbuatan keji atau berbuata aniaya kepada diri mereka sendiri, mereka lalu ingat kepada Tuhan lalu memohon ampunan atas dosa-dosa mereka.  Dan siapakah yang dapat mengampuni dosa-dosan, selain Allah dan kemudian mereka mengulanginya lagi atas perbuatan yang telah mereka lakukan tersebut dan mereka itu mengetahuinya.  Balasan mereka itu ialah ampunan dari Tuhan dan surga yang didalamnya megalir sungai-sungai, dan mereka akan kekal di dalamnya.  Dan itulah sebaik-baik pahala orang yang beramal kebajikan”

          Barangkali dengan ayat yang masih global tersebut sangat tidak mudah untuk dimengerti.  Untuk itulah kiranya akan bijaksana kalau berikut ini akan saya jelaskan dengan berbagai penggambaran nyata dengan maksud untuk memudahkan semua orang dalam mencernanya, sebagai berikut:  Ayat-ayat tersebut sesungguhnya  memotivasi kepada kita untuk mencari ampunan Tuhan dan sekaligus surga yang telah disediakan oleh Allah bagi orang-orang yang bertakwa.  Sedangkan untuk mengenal siapa yang disebut taqwa itu biasanya  diberikan batasan yang umum, yakni siapa saja yang menjalankan seluruh perintah Allah dan sekaligus menjauhi larangan-laranagan-Nya.

          Puasa Ramadlan yang diwajibkan oleh Allah bagi semua umat Islam juga dimaksudkan agar mereka dapat menjadi taqwa.  Lalu apakah seluruh manusia muslim yang telah menjalankan ibadah puasa ke,udian dapat disebut sebagai orang-orang yang taqwa sebagaimana yang dimaksudkan tersebut dan akan mendapatkan balasan ampuna dan surga?  Jawabannya tentu harus diklasifikasikan menurut kondisi orang yang berpuasa.  Ada sebagian dari mereka yang kemudian memang dapat menjadi muttaqin beneran, ada yang dapat dikatakan sebagai mendapatkan gelar muttaqin tidak sempurna dan juga ada yang tidak akan mendapatkan hakekat muttaqin itu sendiri.

          Semua status tersebut sesuai dengan amal perbuatan yang dilakukan selama menjalankan ibadah puasa. Bagi siapapun yang  ketika menjalankan puasa didasari iman yang kuat dan ikhlas karena Allah semata, kemudian juga dapat mengendalikan dirinya dan seluruh anggota badannya untuk tidak melakukan hal-hal negatif dan maksiat, lalu juga dapat mengarahkan seluruh anggota tubuh, pikian dan hati hanya untuk mengabdi kepada Tuhan, tentunya akan bisa menjadpatkan status muttaqin tersebut.  Namun bagi yang hanya sebagian saja diantara kebaikan tersebut yang diamalkannya, tentunya ia hanya akan mendapatkan sebagianya saja, dan bagi yang tidak bisa mengendalikan pikiran hati dan juga anggota tubuh lainnya untuk kebaikan, maka ia hanya akan mendapatkan lapar dan dahaga saja.

          Nah, kembali kepada persoalan ampunan dan surga Tuhan yang hanya disediakan kepada orang-orang mutaqin, tentunya harus dapat kita amati dalamkehidupan nyata sekarang ini. Artinya bahwa orang yang muttaqin tentunya ada tanda tanda yang jelas tampak ke permukaan, dan yang disebutkan oleh Tuhan ialah mereka yang mau mendermakan atau berinfaq di jalan Allah, baik dikala sedang lapang ataupun saat berada dalam kesempitan rizki.  Tanda muttaqin yang ini  sesungguhnya memang sangat mudah untuk diucapkan, namun seringkali banyak diringgalkan atau tidak dipraktekkan dalam kenyataan.

          Bahwa berinfak atau memberikan sebagian harta yang dititipkan oleh Tuhan kepada kita untuk kemudian kita salurkan kepada siapapun yang memerlukan atau untuk kepentingan Islam, merupakan perbuatan yang sangat baik dan dianjurkan, namun memang banyak yang tidak tertarik untuk mempraktekkannya, padahal balasan yang akan diberikan oleh Allah jauh sangat besar dan bahkan berlipat ganda ketimbang yang diinfakkan tersebut.  Apalagi kalau kemudian kita lebih cermati lagi firman Tuhan tersebut, yakni berderma pada saat lapang dan juga pada saat sempit, tentu akan semakin berat bagi sebagian orang yang memang belum sepenuhnya menjadi muttaqin.

          Jadi sangat jelas sesungguhnya tanda orang-orang muttaqin tersebut, yakni  apabila seseorang tersebut mau berderma atau infaq, baik pada saat lapang dan mempunyai banyak harta, maupun pada saat sempit dan sangat membutuhkan harta tersebut, tetapi ia tetap mau berinfaq untuk kepentingan agama maupun menolong orang lain.  Dan manusia seperti itulah yang nantinya akan mendapatkan ampunan dan juga surga Tuhan.  Tetapi itu saja sesungguhnya belum cukup, karena itu baru merupakan sebagian tanda muttaqin, dan masih ada beberapa tanda lainnya, yakni mampu mengendalikan emosinya.

          Tidak jarang orang terkadang mengumbar nafsu dan emosinya, sehingga pikiran sehatnya menjadi tertutup oleh kemarahannya tersebut.  Akibatnya terkadang seseorang tersebut dapat melakukan berbagai hal yang tidak rasional, seperti merusak peralatan rumah tangga yang sangat diperlukan dalam kehidupannya sehari-hari, menampar dan menyakiti pihak lain, mengeluarkan kata-kata kotor dan sangat menyakitan pihak lain, dan lainnya.  Sehingga orang yang bertqwa, sesungguhnya ialah mereka yang dapat mengendalikan emosi dan amarahnya, sehingga akan tetap tenang dan mengutamakan pertimbangan rasionya dalam menghadapi setiap masalah, termasuk masalah besar yang sangat mengganggu dan menyudutkan atau bahkan sangat menyakitinya sekalipun.

          Tanda muttaqin lainnya yang tetap harus melekat dalam diri seseorang ialah mau dan mudah memberikan maaf kepada pihak lain yang bersalah kepadanya.  Artinya seseorang yang tidak pernah menyimpan dendam dan sakit hati kepda siapapun, meskipun terhadap orang yang jelas-jelas menyakiti dan memperlakukan tidak manusiawi kepadanya, bahkan ia malah mendoakan agar orang tersebut menjadi sadar dan bisa berpikir dan bersikap baik, serta  memberikan maaf kepadanya.  Siap seperti memang sangat langka dan hanya orang-orang yang benar-benar muttaqin lah yang dapat menjalankannya dalam praktik.  Dan kalau kita mau mendapatkan ampunan dan surga dari Tuhan tentunya harus dapat mempraktikkannya dalam kehidupan sehari-hari kita.  Karena sekali lagi Tuhan sangat menyukai orang seperti itu, yang selalu berbuat baik dan tidak pernak membalas kejelekan yang diterimanya, bahkan cara membalasnya selalu dengan mendoakan kepada Tuhan agar sadar dan berlaku baik, serta memaafkan.

          Sementra tanda muttaqin lainnya yang juga tidak kalah pentingnya ialah mereka yang ketika melakukan perbuatan jelek atau maksiat atau berbuat aniaya terhadap diri mereka, lantas segera menyadarinya dan kemudian sesegera mungkin memohon ampunan kepada Allah, karena mereka  tahu hanya Tuhanlah yang dapat memberikan ampunan atas perbuatan keji dan maksiat yang dilakukannya, dan yang terpenting ialah mereka kemudian menyadari dan berjanji untuk tidak mengulanginya lagi di masa mendatang.

          Pada tanda muttaqin yang terakhir tersebut sesungguhnya ada kata kunci yang sangat perlu dicatat bahwa keterlanjuran mengerjakan sesuatu yang tidak baik atau maksiat tersebut, tidak akan terulang lagi, karena disitu ada kata terlanjr dan kemudian menyadari serta tidak akan mengulanginya lagi.  Jadi kalau perbuatan maksiat tersebut selalu diulang ulang dalam kehidupan seseorang, maka hal tersebut tidak termasuk dalam kategori ciri dan tanda muttaqin.  Artinya kalau seseorang mengerjakan maksiat lal memita ampun, dan pada suau waku diulanginya lagi dan memohon ampun lagi dan begitu seterusnya, tidaklah termasuk bagian dari tanda muttaqin.

          Nah, orang orang yang dalam dirinya tercermin sifat-sifat sebagaimana yang saya sebutkan di atas, tentunya  yang akan mendapatkan ampuna  dari Tuhan dan juga akan berhak mendapatkan surga yang sangat luas sebagaimana diinformasikan oleh Tuhan sendiri.  Untuk itu saya mengajak kepada siapapun untuk menghiasi diri kita dengan sifat-sifat terpuji tersebut, dengan tujuan  agar kita benar-benar mendapatkan ampunan dari Allah SWT, dan sekaligus mendapatkan surganya.  Kita sangat yakin kalau kita bisa berbuat demikian maka secara otomatis kehidupan dunia kita juga akan bernilai dan memberikan manfaat serta kemaslahatan kepada  semua makhluk Tuhan.

Mau berlangganan artikel ? masukan nama dan email anda


SEO Powered by Platinum SEO from Techblissonline